Rakyat di Pesisir Hutan Dalam Kacamata “Pemuda Adat”

Desa Turungan Baji adalah sebuah pedesaan dengan jumlah Penduduknya yang terbilang banyak dengan mayoritas sebagai petani. Tanah yang masih sangat subur, tongkat kayu dan batu pun dapat jadi tanaman kata sebuah lagu yang sering terdengar di telinga.

Udara yang amat segar, pepohonan menghijau disetiap deretan pegunungan, namun sayangnya tanah masyarakat yang telah di wariskan dari nenek moyangnya terdahulu tidak bisa dikelolah sepenuhnya oleh karena sebagian besar lahan tersebut telah di klaim secara sepihak sebagai kawasa Hutan Produksi Terbatas (HPT) oleh Negara, dimana hampir seluruh wilayah pesisir hutan mengalami hal serupa.

Lahan yang telah di tanami pohon pinus, untuk di persembahkan kepada perusahaan asing, seperti telah terjadi di sinjai borong beberapa tahun lalu. Jadi mau makan apa? Para petani yang tinggal dan menetap di pesisir hutan jika tanaman yang tumbuh di sekitar pemukiman masyarakat hanya pohon pinus.

Lahannya yang telah ditanaminya dengan tanaman produktif seperti cengkeh, kopi, coklat dan sejenisnya dirampas oleh Negara kemudian ditanami tanaman-tanaman liar yang sama sekali tidak menguntungkan bagi masyarakat. Beberpa bulan lalu tepatnya di Dusun soppeng, Desa Turungan Baji, Kecematan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai, Sul-Sel. Seorang bapak setenga baya bernama Bahtiar, di tangkap, di Kriminalisasi karena mengelolah lahannya sendiri, yang persis sama dengan petani lainnya yang lahannya dirampas.

Bahtiar bin Sabang dalam jeruji tahanan Foto : Wahyu Candra

Bahtiar mencoba bergerak untuk melawan dengan tujuan mengembalikan sepenuhnya lahan Masyarakat yang telah dirampas oleh Negara tersebut, namun usaha Bahtiar tersebut gagal karena berbagai tudingan dan akhirnya di penjarakan hingga sampai sekarang belum juga dibebaskan. Yang menjadi masalah karena kurangnya masyarakat yang terjun membantu Bahtiar pada saat melakukan perlawanan untuk membebaskan lahannya yang diklaim, karena masyarakat ketakutan oleh berbagai intimidasi oleh mereka yang bertanggungjawab.

Maklum masyarakat yang ada di Desa Turungan Baji, tingkat  putus sekolah  tinggi dan bahkan tidak pernah duduk di bangku sekolah sama sekali. Jadi sangat diperlu sekolah pembinaan untuk para petani supaya lebih produktif dalam mengelolah lahan petaniaannya contohnya, seperti Sekolah Adat, dengan merangkul seluruh kalangan masyarakat untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa dan bernegara.

Sebetulnya Desa Turungan Baji adalah suatu pedesaan yang sangat kaya dan produktif, dengan Adat budaya yang sangat kental dan penuh dengan sejarah juga memiliki hasil pertanian yang sangat diminati di pasaran, seperti cengkeh, merica, pala, kakao, pisang, gula aren, kelapa, sagu beberapa hasil pertanian lainya, namun para petani sering kali gagal panen karena kurangnya partisipasi pemerintah dalam menyalurkan bantuan, seperti bibit, pupuk organik dan keperluan-keperluan lainnya. Dalam hal seperti ini seharusnya Pemerintah memberikan fasilitas penyuluhan agar hasil pertaniaan dapat meloncat naik derastis untuk memenuhi prekonomian masyarakat pesisir juga sedikit membantu prekonomian Negara yang mengalami penurunan saat ini.

Permasaahan lain adalah terhambatnya teransportasi, karena jalan yang ada di desa turungan baji tersebut sangat terjal dan berbatu sebesar kepala manusia jadi kendaraan roda dua apalagi roda empat sulit untuk melintasi jalanan tersebut, maka yang terjadi adalah menjual murah hasil panen karena tidak bisa memasarkan hasil pertaniaan keluar kampung.

 

Penulis : Nur Alamsyah (Pemuda Adat Turungan)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top